Ada yang Mau IPO, Bisnisnya terkait Batu Bara

19 Desember 2024
Image Description

JAKARTA, investor.id - Perusahaan penyedia jasa infrastruktur yang berbasis di Sumatra Selatan, PT Titan Infra Sejahtera (TIS) mengumumkan rencananya untuk melaksanakan penawaran umum perdana saham (IPO) pada tahun 2025.

Langkah ini diambil dengan tujuan untuk menangkap potensi bisnis infrastruktur batu bara yang masih besar dan juga ekspansi melalui penyaluran modal ke anak usaha.

Presiden Direktur PT Servo Lintas Raya (SLR) dan PT Swarnadwipa Dermaga Jaya (SDJ), Victor B Tanuadji, menekankan bahwa TIS hanya bergerak di bidang infrastruktur, tanpa aktivitas tambang, sehingga lebih sesuai dengan kebutuhan investor yang peduli isu lingkungan. “Ini infrastruktur murni, tidak ada tambang dalam TIS,” jelasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (17/12/2024).

Untuk diketahui, TIS mengoperasikan dua anak usaha utama yakni SLR yang mengelola jalan hauling sepanjang 118 kilometer, dan SDJ yang mengoperasikan pelabuhan di Sungai Musi untuk pengapalan komoditas, terutama batu bara.

Pada 2023, TIS mencatatkan EBITDA sebesar US$ 100 juta, dengan optimisme akan peningkatan pada 2024.

Direktur Operasi PT Titan Infra Energy Suryo Suwignjo mengatakan bahwa pendapatan TIS sangat bergantung pada volume batu bara yang melewati jalan hauling SLR dan pelabuhan SDJ.

Tahun ini, TIS mencatat volume angkutan batu bara sebesar 21 juta ton, naik 15% dari 2023 yang sebesar 18 juta ton. Pada 2025, perusahaan memproyeksikan volume ini akan meningkat hingga 27 juta ton.

PTBA

Faktor pendukung lainnya adalah kerja sama dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA), yang mulai menggunakan jalur hauling dan pelabuhan TIS untuk mengirimkan batu baranya sejak 2024.

“Kami optimistis volume batu bara Bukit Asam yang melewati jalur kami akan terus bertambah,” tambah Victor.

Lebih lanjut, mengantisipasi lonjakan volume batu bara, TIS telah menambah pelabuhan dari dua menjadi tiga unit pada 2024, lengkap dengan lima konveyor. Tahun depan, perusahaan berencana menambah satu konveyor lagi untuk menghindari bottleneck.

Victor percaya bahwa Sumatra Selatan, sebagai penyumbang terbesar produksi batu bara di Sumatra, memiliki peran strategis dalam pasar batu bara nasional. Dengan cadangan batu bara mencapai 9,3 miliar ton atau 25% dari total cadangan nasional, Sumatera Selatan menjadi wilayah yang sangat prospektif.

Biaya produksi batu bara di Kalimantan yang semakin tinggi juga membuka peluang besar bagi Sumatra Selatan. “Ketika tambang Kalimantan mulai menipis dan biaya produksi meningkat, tambang Sumatra akan menjadi tumpuan baru,” ujar Victor.

Sebagai informasi, target produksi batu bara di Sumaera Selatan tahun ini mencapai 131 juta ton, dengan konsentrasi tambang di wilayah Muara Enim, Lahat, dan Ogan Komering Ulu. Terkait IPO, TIS akan melepas saham minimal 10% sesuai aturan bursa. “Kami optimistis saham TIS akan diterima pasar dengan baik,” tutup Suryo.


Sumber : investor.id

Penulis : M. Ghafur Fadillah