Efek Anjloknya Harga Nikel terhadap Smelter

03 Juli 2025
Image Description

Riani Sanusi Putri

TREN penurunan harga nikel dunia masih terus berlanjut. Trading Economics mencatat, pada 10 Juni 2025, harga nikel global US$ 15.272 per ton, turun 0,61 persen dibanding pada hari sebelumnya. Dalam sebulan

terakhir, harga nikel pun telah merosot 14,29 persen dibanding pada periode yang sama tahun lalu.

Bank Dunia memproyeksikan harga nikel terus melemah sepanjang 2025. Dalam Laporan Pasar Komoditas edisi April 2025, Bank Dunia memperkirakan harga nikel turun 6 persen sepanjang tahun ini, setelah

mencatat penurunan 2 persen pada kuartal pertama dan mencapai level terendah sejak 2020.

Menurut Ketua Umum Perhimpunan Ahli Pertambangan Indonesia Sudirman Widhy Hartono, koreksi tajam harga nikel ini memberikan tekanan besar terhadap smelter dalam negeri. Pasalnya, biaya investasi untuk

membangun pabrik nikel yang menggunakan teknologi tinggi sangat besar, yakni Rp 10-20 triliun. Dengan harga jual nikel yang terus melemah, mereka tidak bisa menutup biaya investasi.

Dampak penurunan harga ini sudah terlihat. Sebuah perusahaan baja nirkarat asal Cina dikabarkan menghentikan sementara operasi smelter nikelnya di Indonesia per Mei 2025. Sementara itu, PT Gunbuster Nickel

Industry di Morowali Utara, Sulawesi Tengah, memangkas produksi sejak Februari 2025, meskipun manajemen menyatakan langkah tersebut bagian dari masa transisi perusahaan.

Di tengah tekanan harga, menurut Sudirman, wajar sejumlah perusahaan mengambil langkah efisiensi, termasuk pengurangan produksi, guna menghindari kelebihan pasokan di pasar global. Sebab, efek dominonya

adalah margin keuntungan smelter makin kecil dan keekonomian proyek menjadi sangat berisiko.

"Mengurangi produksi untuk menstabilkan pasar, menurut kami, adalah strategi yang normal dan lazim," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat, 6 Juni 2025.


Anggota Dewan Penasihat Pertambangan Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI), Djoko Widajatno, mengimbuhkan, di tengah tren harga nikel yang rendah, perusahaan harus menekan biaya produksi,

meningkatkan efisiensi operasional, serta memperluas integrasi vertikal hingga ke produk akhir, seperti bahan baku baterai atau bahkan baterai kendaraan listrik agar bisa bertahan.

"Penghiliran tetap relevan dan menguntungkan selama pelaku usaha tidak berhenti pada pembangunan smelter semata," ujarnya kepada Tempo, Selasa, 10 Juni 2025.

Menurut Djoko, smelter di Tanah Air kini hanya bisa bertahan di tengah harga nikel yang rendah jika terintegrasi dengan tambang, efisien dalam penggunaan energi, memiliki pasar hilir, serta mendapat dukungan

fiskal yang stabil. Jika tren harga rendah berlanjut hingga 2026 tanpa lonjakan permintaan, ia mengungkapkan, smelter kecil atau yang tidak terintegrasi rawan gulung tikar atau dijual ke investor besar.

Djoko juga mengingatkan bahwa penghiliran tidak akan berkelanjutan jika hanya bergantung pada ekspor komoditas setengah jadi ke Cina. Sebab, ketergantungan pada volume ekspor bahan setengah jadi hanya akan

membuat industri rentan terhadap fluktuasi harga global.

Karena itu, APNI menilai yang dibutuhkan pelaku usaha saat ini adalah ekosistem industri berbasis inovasi dan nilai tambah tinggi. Dengan begitu, Indonesia bisa naik kelas sebagai pemain kunci dalam rantai pasok

baterai dan kendaraan listrik dunia.

Saat ini penghiliran nikel Indonesia memang masih bergantung pada ekspor komoditas setengah jadi ke Cina. Terutama dalam bentuk NPI (nickel lateritic paste) dan MHP (manganese-nickel-iron-petite).

Sumber : tempo.co

Image Description

Jane Smith

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Etiam quis diam erat. Duis velit lectus, posuere a blandit sit amet, tempor at lorem. Donec ultricies, lorem sed ultrices interdum, leo metus luctus sem, vel vulputate diam ipsum sed lorem.

-->