Emiten Incar Proyek Nikel hingga Rp 7 Triliun
JAKARTA, investor.id - Semakin mantap menjadi emiten jasa tambang, PT PP Presisi Tbk (PPRE) incar proyek nikel yang berlokasi di Morowali dan Halmahera dengan potensi kontrak baru mencapai Rp 7 triliun pada 2025.
Direktur Utama PP Presisi Arzan membeberkan potensi besar Indonesia dalam sektor tambang nikel. “Produksi bijih nikel nasional meningkat signifikan dari 38 juta metrik ton pada 2018 menjadi hampir 200 juta metrik ton pada 2023. Tren ini diperkirakan bertambah 5-10% pada 2024,” jelasnya dalam paparan publik di Jakarta, Rabu (18/12/2024).
Indonesia yang menguasai 55% cadangan nikel dunia memberikan keunggulan strategis, menjadikannya pusat perhatian investor global. Selain itu, Arzan menyebutkan bahwa Indonesia juga termasuk dalam lima besar produsen utama untuk komoditas lain seperti timah, bauksit, dan batu bara, yang memperluas potensi bisnis perusahaan.
Perseroan mengincar beberapa proyek nikel yang berlokasi di Halmahera juga Morowali, dengan nilai kontrak diperkirakan berkisar dari Rp 6-7 triliun.
Pemain Baru
Tak hanya fokus pada nikel, PP Presisi (PPRE) juga berencana masuk ke sektor bauksit di Kalimantan Barat pada 2025. “Kami menjajaki peluang baru di tambang bauksit. Strategi ini memperluas portofolio jasa pertambangan kami,” tambah Arzan.
Langkah ini didukung oleh alokasi belanja modal sebesar Rp 535 miliar pada 2025, sebagian besar diarahkan untuk investasi alat berat guna mendukung proyek-proyek pertambangan.
Sebagai pemain yang relatif baru di industri tambang, PP Presisi percaya diri dapat bersaing dengan kontraktor yang telah mapan. “Kami memiliki keunggulan dalam kompetensi penggunaan alat berat. Aktivitas jasa pertambangan seperti penggalian dan pemindahan tanah mirip dengan pekerjaan infrastruktur yang telah kami garap sebelumnya,” tegas Arzan.
Saat ini, perusahaan telah mengoperasikan hampir 300 unit alat berat, mayoritas digunakan untuk jasa pertambangan. Dengan kompetensi ini, PP Presisi optimistis dapat mencapai target kontribusi pendapatan sebesar 60% dari lini bisnis pertambangan pada 2025, dari total pendapatan yang ditargetkan mencapai Rp 7 triliun.
Langkah agresif perusahaan di sektor tambang juga terlihat dari proyeksi pertumbuhan nilai kontrak hingga Rp 10 triliun pada 2025, dengan mayoritas berasal dari jasa pertambangan. “Kami optimistis jasa pertambangan akan menjadi core business. Selain nikel, kami akan terus memperluas layanan ke komoditas lain seperti bauksit dan batubara, yang sejalan dengan kebutuhan teknologi global, terutama untuk baterai kendaraan listrik,” pungkasnya.
Editor: Theresa Sandra Desfika
Sumber : investor.id