Harga Batu Bara Makin Meredup, China Jadi Biang Kerok?
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara makin meredup pada Senin (27/1/2025). Hal ini karena sentimen dari China terkait output listrik termal berbasis batu bara diperkirakan akan turun pada 2025.
Harga batu bara Newcastle untuk Januari 2025 jatuh US$ 1,8 menjadi US$ 114,55 per ton. Sedangkan Februari 2025 terkoreksi US$ 2,5 menjadi US$ 118,45 per ton. Sementara itu, Maret 2025 anjlok US$ 1,7 menjadi US$ 118,75 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Januari 2025 naik US$ 0,45 menjadi US$ 109,1. Sedangkan, Februari 2025 malah turun US$ 1,7 menjadi US$ 105,9. Sedangkan pada Maret 2025 terkerek US$ 1,75 menjadi US$ 105,7.
Dikutip dari Reuters, produksi listrik termal berbasis batu bara di China diprediksi akan turun pada 2025, yang akan menjadi penurunan pertama dalam satu dekade terakhir. Namun, beberapa analis memperingatkan bahwa kondisi cuaca ekstrem atau pertumbuhan industri yang lebih kuat dari perkiraan dapat mengubah proyeksi tersebut.
Penurunan ini menjadi sinyal positif bagi upaya dekarbonisasi sektor kelistrikan China, yang menyumbang sekitar 60% dari total emisi negara tersebut. Pemerintah China telah menetapkan target untuk mencapai puncak emisi karbon sebelum 2030 dan mencapai net zero sebelum 2060.
China diperkirakan akan memenuhi atau bahkan melampaui rekor peningkatan kapasitas energi terbarukan pada 2024, seiring dengan upaya pengembang untuk memenuhi target dalam rencana lima tahun ke-14 yang akan berakhir tahun ini.
Menurut beberapa analis, kondisi tersebut menciptakan peluang bagi energi terbarukan untuk memenuhi seluruh kebutuhan listrik baru pada tahun ini.
Pembangunan kapasitas energi terbarukan yang pesat menyebabkan tiga dari empat analis yang diwawancarai Reuters memproyeksikan output listrik termal akan mendatar atau turun.
Hal itu sejalan dengan pertumbuhan permintaan listrik keseluruhan yang diperkirakan berada di kisaran 6% hingga 7,5% oleh empat analis dan satu kelompok industri. Sebagai perbandingan, pertumbuhan tahun lalu mencapai 6,8%.
Penurunan output listrik berbasis fosil ini menunjukkan arah transisi energi di China, yang semakin mengutamakan keberlanjutan melalui investasi besar dalam energi terbarukan.
Sumber : investor.id
Penulis : Indah Handayani