Harga Batu Bara Melonjak Ditopang Kenaikan Impor India

10 Januari 2025
Image Description

Penulis : Indah Handayani

JAKARTA, investor.id – Harga batu bara melonjak pada hari perdagangan terakhir di 2024, Selasa (31/12/2024). Hal itu ditopang sentimen positif dari impor batu bara termal India yang naik signifikan.

Harga batu bara Newcastle untuk Januari 2025 naik US$ 0,7 menjadi US$ 125,25 per ton. Sedangkan Februari 2025 meningkat US$ 1,1 menjadi US$ 127 per ton. Sementara itu, Maret 2025 terkerek US$ 1,5 menjadi US$ 129,1 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Januari 2025 terkerek US$ 1,3 menjadi US$ 113,95. Sedangkan, Februari 2025 meningkat US$ 1,6 menjadi US$ 113,15. Sedangkan pada Maret 2025 naik US$ 1,75 menjadi US$ 111,7.

Dikutip dari Mint, impor batu bara termal, yang digunakan untuk pembangkit listrik, di India meningkat sekitar 9% selama periode April-November pada tahun fiskal 2024-2025 (FY25). Kenaikan ini didorong oleh peningkatan pembelian batu bara dari pembangkit listrik berbasis impor (ICB), yang diwajibkan beroperasi dengan kapasitas penuh sejak Maret tahun ini di tengah lonjakan permintaan listrik.

Data dari Central Electricity Authority (CEA) menunjukkan bahwa pembangkit listrik berbasis batu bara impor telah mengimpor 33,4 juta ton selama periode tersebut, naik 29% dibandingkan 26 juta ton pada periode yang sama tahun lalu.

Pemerintah India memberlakukan Pasal 11 dalam Electricity Act pada Februari, yang mengharuskan pembangkit listrik ICB beroperasi sesuai arahan pemerintah saat menghadapi situasi luar biasa. Ketentuan ini mulai berlaku sejak 16 Maret dan terus diperpanjang hingga kini.

India memiliki 15 pembangkit listrik berbasis batu bara impor dengan kapasitas kumulatif sekitar 17 gigawatt (GW). Dalam kondisi normal, banyak dari pembangkit ini tidak dioperasikan jika pasokan dari pembangkit domestik (DCB) mencukupi kebutuhan nasional. Namun, tingginya harga batu bara impor juga mempengaruhi jadwal operasi mereka.

Krisis pasokan batu bara domestik pada tahun fiskal 2021-2022 membuat pemerintah lebih berhati-hati. Saat itu, operator pembangkit ICB enggan membeli batu bara dari pasar internasional akibat harga yang tinggi, sehingga mengganggu pasokan energi nasional. Kini, pemerintah memastikan pembangkit ICB tetap beroperasi optimal untuk mendukung permintaan listrik puncak.

Permintaan listrik puncak nasional mencatat rekor 250 GW pada 30 Mei 2024. Tren ini diperkirakan terus meningkat, terutama selama musim dingin, di mana kebutuhan pemanas melonjak. Diproyeksikan, permintaan puncak akan mencapai 277,2 GW pada tahun 2026-2027 dan 366,4 GW pada 2031-2032, menurut survei 20th Electric Power Survey.

Selama tiga tahun terakhir, permintaan listrik puncak di India terus mencetak rekor baru. Kebutuhan yang terus meningkat ini membuat peran pembangkit listrik, baik berbasis domestik maupun impor, semakin penting.

Di sisi lain, produksi batu bara domestik juga menunjukkan peningkatan. Pada November, produksi batu bara di India mencapai 628,37 juta ton, naik 6,26% dibandingkan periode yang sama tahun fiskal sebelumnya. Pemerintah optimistis total produksi pada tahun fiskal ini akan melampaui 1 miliar ton untuk pertama kalinya.

Dengan 167 pembangkit listrik berbasis batu bara domestik yang memiliki kapasitas total 193 GW, serta dukungan impor batu bara yang terus meningkat, India berupaya mengatasi lonjakan kebutuhan listrik nasional yang kian kompleks.


Sumber : investor.id