Harga Batu Bara Membara, Mengapa?
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara membara pada Kamis (30/1/2025). Hal ini ditopang kekhawatiran ancaman tarif Presiden Donald Trump, ramalan harga batu bara kokas hingga kenaikan impor batu bara termal di Eropa.
Harga batu bara Newcastle untuk Januari 2025 naik US$ 0,05 menjadi US$ 114,85 per ton. Sedangkan Februari 2025 menguat US$ 0,85 menjadi US$ 116,9 per ton. Sementara itu, Maret 2025 meningkat US$ 0,6 menjadi US$ 120,1 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Januari 2025 menguat US$ 0,05 menjadi US$ 110. Sedangkan, Februari 2025 terkerek US$ 0,9 menjadi US$ 109,15. Sedangkan pada Maret 2025 melesat US$ 1,2 menjadi US$ 108,95.
Kekhawatiran Presiden Donald Trump akan menindaklanjuti ancamannya untuk mengenakan tarif 25% pada impor dari Kanada dan Meksiko pada 1 Februari. Trump juga mengindikasikan akan melanjutkan tarif terhadap China. Ia tidak menyebutkan pungutannya, meskipun sebelumnya ia mengatakan tarifnya adalah 10%.
Sementara itu, firma analis BMI, bagian dari Fitch Solutions, memperkirakan harga batu bara kokas akan mengalami sedikit kenaikan pada 2025 dengan rata-rata harga mencapai US$ 220 per ton, menurut laporan Kallanish.
Prediksi ini dibuat di tengah prospek suram produksi baja global. Menurut BMI, perlambatan pertumbuhan produksi baja di negara-negara pengimpor, kecuali India, akan terus membatasi permintaan batu bara kokas dan menekan harganya dalam jangka pendek.
Dalam tinjauan Desember, Departemen Industri, Sains, dan Sumber Daya Australia memprediksi harga rata-rata batu bara kokas mencapai US$ 211 per ton pada 2024/2025 (berakhir Juni 2025) dan US$ 205 per ton pada 2025/2026.
Laporan kuartalan departemen tersebut mencatat bahwa perkiraan harga batu bara kokas masih sangat volatil, mengingat kurangnya likuiditas pasar serta potensi perubahan dalam aliran perdagangan baja akibat faktor geopolitik dan kebijakan perdagangan.
Tidak hanya itu, data S&P Global Comodities at Sea menyebutkan, harga batu bara ditopang oleh total impor batu bara termal Eropa naik menjadi 8,5 juta metrik ton pada kuartal IV-2024. Angka itu naik dibandingkan 5,2 juta metrik ton pada kuartal sebelumnya.
Peningkatan impor tersebut berkat meningkatnya permintaan dari sektor utilitas karena volatilitas harga gas. Ditambah lagi, produksi tenaga angin yang lebih lemah dan suhu yang lebih rendah dari perkiraan.
Sumber : investor.id
Penulis : Indah Handayani