Harga Batu Bara Menguat, Terungkap Pemicunya
Penulis : Indah Handayani
JAKARTA, investor.id – Harga batu bara menguat pada Selasa (27/5/2025). Hal itu dipicu Departemen Energi Amerika Serikat (U.S. Department of Energy/DOE) memerintahkan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) JH Campbell milik Consumers Energy di Michigan untuk tetap beroperasi hingga setidaknya akhir Agustus 2025.
Harga batu bara Newcastle untuk Mei 2025 naik US$ 0,5 menjadi US$ 100,9 per ton. Sedangkan harga batu bara Newcastle Juni 2025 terkerek US$ 0,4 menjadi US$ 108,75 per ton dan Juli 2025 menguat US$ 0,6 menjadi US$ 111,1 per ton.
Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Mei 2025 anjlok US$ 2,25 menjadi US$ 95,5. Sedangkan, Juni 2025 jatuh US$ 1,8 menjadi US$ 98,65. sementara pada Juli 2025 turun US$ 1,5 menjadi US$ 99.
Dikutip dari AP, keputusan Departemen Energi Amerika Serikat (U.S. Department of Energy/DOE) tersebut ini diambil guna mengantisipasi potensi kekurangan listrik di kawasan tengah AS. Padahal, PLTU tersebut dijadwalkan berhenti beroperasi pada 31 Mei sebagai bagian dari transisi ke energi bersih. Langkah pemerintah pusat ini langsung mendapat kritik dari regulator energi negara bagian.
“Kami saat ini memproduksi lebih banyak energi daripada yang dibutuhkan di Michigan. Jadi, tidak ada keadaan darurat energi baik di Michigan maupun di wilayah MISO,” kata Dan Scripps, Ketua Komisi Layanan Publik Michigan (MPSC).
MISO (Midcontinent Independent System Operator) adalah lembaga yang mengelola distribusi listrik di 15 negara bagian AS dan Manitoba, Kanada. Dalam proyeksinya, MISO menyatakan bahwa pasokan listrik musim panas ini akan mencukupi, meski ada potensi risiko jika terjadi cuaca ekstrem.
PLTU JH Campbell yang dibangun pada 1962 dan terletak di Ottawa County, Michigan, dekat Danau Michigan, mampu menghasilkan hingga 1.450 megawatt listrik, cukup untuk melayani sekitar 1 juta pelanggan.
Daftar Material Kritis AS
Dalam laporan GMK Center, Departemen Energi AS juga menetapkan batu bara metalurgi (coking coal) sebagai material kritis yang penting bagi industri baja nasional.
“Untuk mencapai tujuan kebijakan agar AS mendominasi produksi baja global, dibutuhkan peningkatan signifikan dalam produksi dan penggunaan batu bara metalurgi domestik,” tulis laporan tersebut.
Departemen Energi menyoroti bahwa ketergantungan industri baja AS terhadap batu bara metalurgi impor menempatkan sektor ini dalam jalur yang rentan. Infrastruktur bersama dan tenaga kerja yang melayani produksi batu bara termal dan metalurgi kini menghadapi tekanan akibat menurunnya investasi dan kapasitas operasi.
Sumber : investor.id