Harga Bijih Besi Naik Dua Pekan Beruntun Dikerek Kabar dari China

01 Agustus 2025
Image Description
News

Bloomberg Technoz, Jakarta - Harga bijih besi menuju penutupan tertinggi sejak Mei 2025 setelah fokus baru China terhadap reformasi sisi pasokan memicu optimisme bagi pasar baja negara tersebut.

Kontrak berjangka bahan baku utama pembuatan baja itu mencatat kenaikan mingguan kedua, dengan harga kembali menembus level US$96 per ton.

Pejabat eksekutif di Beijing pekan ini berjanji akan menekan kapasitas industri yang sudah usang— langkah yang berpotensi mendorong harga bahan baku karena bisa meningkatkan margin keuntungan produsen baja.

Analis di Citigroup Inc. menilai sinyal dari China tersebut sebagai awal dari “reformasi sisi pasokan 2.0”.

Namun dibandingkan dengan periode 2015-2018, Citigroup memperkirakan pemangkasan kapasitas akan lebih moderat dan tidak diikuti oleh stimulus permintaan secara signifikan, menurut catatan riset.

Selama setahun terakhir, bijih besi telah kehilangan sekitar 15% nilainya seiring melemahnya ekonomi China—konsumen terbesar global. Prospek permintaan juga tertekan oleh pasokan yang melimpah dari Australia dan Brasil, dua eksportir terbesar.

Harga bijih besi menuju penutupan tertinggi sejak Mei 2025. (Bloomberg)

Analis Goldman Sachs Inc. dalam riset tertanggal Kamis menyebut bahwa meskipun mereka masih berhati-hati terhadap janji penyelesaian cepat atas kelebihan kapasitas dalam pasar baja global yang mencapai 1 miliar ton per tahun, harga bijih besi berpotensi bertahan di kisaran US$95–100 per ton dalam jangka pendek.

“Untuk mendorong penurunan produksi baja dan konsumsi bijih besi, permintaan domestik atau ekspor harus melemah, atau perlu ada pemangkasan produksi secara wajib,” kata Aurelia Waltham, analis ferrous di Goldman Sachs, yang tetap mempertahankan proyeksi harga akhir tahun di US$90 per ton.

“Kami percaya pertumbuhan pasokan akan membatasi potensi kenaikan, sehingga harga di atas US$100 per ton sulit dipertahankan.”

Goldman juga menyoroti penurunan harga bijih besi telah mendorong lonjakan impor dari India, yang menyebabkan posisi ekspor-impor negara tersebut menjadi seimbang.

Belakangan lembaga riset itu membuka peluang revisi naik terhadap proyeksi 2026. Estimasi sebelumnya memperkirakan India baru akan menjadi importir neto di akhir 2026, saat harga turun ke US$80 per ton.

Kontrak bijih besi di Bursa Singapura naik 0,2% menjadi US$96,75 per ton pada pukul 10:22 waktu setempat, menuju kenaikan mingguan sebesar 2,2%. Sementara itu, kontrak berdenominasi yuan di Bursa Dalian juga menguat. Kontrak baja di Shanghai turut menguat.

Di sisi lain, harga tembaga melemah bersama mayoritas logam industri lainnya, setelah data tenaga kerja AS yang lebih kuat dari perkiraan mengurangi ekspektasi pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat.

Harga tembaga di London Metal Exchange turun 0,4% menjadi US$9.913 per ton, setelah sempat menyentuh level tertinggi sejak akhir Maret pada Rabu. Harga aluminium juga turun 0,2%.

(bbn)