Harga Crude Palm Oil (CPO) atau minyak sawit mentah mengalami penurunan signifikan yang dipicu oleh berbagai sentimen negatif.
JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) kian terpuruk pada Selasa (17/12/2024). Ini merupakan pelemahan tiga hari beruntun karena bejibun sentimen negatif.
Berdasarkan data BMD pada penutupan Selasa, kontrak berjangka CPO untuk Desember 2024 turun 11 Ringgit Malaysia menjadi 4.889 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Januari 2025 terkoreksi 24 Ringgit Malaysia menjadi 4.801 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO Februari 2025 anjlok 33 Ringgit Malaysia menjadi 4.725 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Maret 2025 jatuh 23 Ringgit Malaysia menjadi 4.621 Ringgit Malaysia per ton.
Sedangkan kontrak berjangka CPO April 2025 terpangkas 5 Ringgit Malaysia menjadi 4.519 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Mei 2025 malah naik 9 Ringgit Malaysia menjadi 4.427 Ringgit Malaysia per ton.
Dikutip dari Bernama, harga CPO tertekan oleh berjibun sentimen negatif, mulai dari longsornya harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT), pelemahan ekspor, hingga pelemahan permintaan.
Kepala penelitian komoditas Sunvin Group yang berbasis di Mumbai Anilkumar Bagani mengaitkan tekanan harga ini dengan kurangnya permintaan baru dari pasar tujuan utama, diperburuk oleh margin impor negatif yang dalam, terutama di India.
“Ekspor minyak sawit Malaysia pada paruh pertama Desember berada di sisi lebih rendah, sementara produksi juga menunjukkan tanda-tanda penurunan,” katanya.
Sementara itu, lanjutnya, Ringgit Malaysia yang lebih lemah terhadap dolar AS membantu membatasi penurunan harga CPO yang denominasi dalam ringgit.
Di sisi lain, pedagang minyak sawit David Ng mengatakan, harga CPO ditutup lebih rendah karena ekspektasi ekspor yang lebih lemah dalam beberapa minggu mendatang, yang menekan harga. "Kami melihat adanya support di 4.700 Ringgit Malaysia per ton dan resistance di 4.950 Ringgit Malaysia per ton," kata Ng.
Sumber : investor.id
Penulis : Indah Handayani