Jangan Kaget, RI Cetak Rekor untuk Bahan Bakar Hijau di Dunia!

16 Januari 2025
Image Description

JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) jatuh pada Kamis (9/1/2025). Hal itu karena terseret pelemahan harga minyak nabati.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Kamis, kontrak berjangka CPO untuk Januari 2025 anjlok 76 Ringgit Malaysia menjadi 4.635 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Februari 2025 turun 45 Ringgit Malaysia menjadi 4.459 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak berjangka CPO Maret 2025 terkoreksi 58 Ringgit Malaysia menjadi 4.296 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO April 2025 terkoreksi 75 Ringgit Malaysia menjadi 4.187 Ringgit Malaysia per ton.

Sedangkan kontrak berjangka CPO April 2025 anjlok 89 Ringgit Malaysia menjadi 4.113 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Mei 2025 terkoreksi 93 Ringgit Malaysia menjadi 4.075 Ringgit Malaysia per ton.

Dikutip dari Bernama, Senior Analis Fastmarkets Palm Oil Analytics Sathia Varga mengatakan, harga CPO melemah lagi karena tertekan oleh penurunan besar pada kontrak minyak sawit olahan di Bursa Komoditas Dalian (DCE) dan kontrak minyak kedelai.

"Kontrak paling aktif untuk Maret sempat anjlok ke level terendah dalam tiga bulan sebelum memulihkan sebagian kerugian, setelah kehilangan lebih dari 20 Ringgit Malaysia per ton di awal sesi," ujarnya.

Data MPOB

Saat ini, fokus pasar tertuju pada data Desember dari Dewan Minyak Sawit Malaysia (Malaysian Palm Oil Board/MPOB) yang dijadwalkan rilis pada Jumat sore (10/1/2025).

“Para pedagang mulai cemas menjelang data industri dan survei kargo penting yang akan dirilis besok. Hal ini menyebabkan aksi jual panik di tengah kurangnya faktor fundamental positif untuk menahan kerugian dan memicu aksi beli yang berkelanjutan,” tambahnya.

Sementara itu, pedagang minyak sawit David Ng juga mengungkapkan, penurunan harga CPO dipengaruhi oleh melemahnya pasar minyak kedelai di Chicago dan harga minyak sawit olahan yang lebih rendah di DCE.

“Kami melihat level suppor berada di 4.200 Ringgit Malaysia dan level resistance di 4.400 Ringgit Malaysia per ton,” katanya.


Sumber :  investor.id