Harga Batu Bara Jeblok, Bakal Lanjut?

23 Juli 2025
Image Description

Penulis : Indah Handayani

JAKARTA, investor.id – Harga batu bara jeblok pada Jumat (4/7/2025). Hal itu dipicu ancaman meluasnya banjir di China yang akan mempengaruhi berkurangnya permintaan batu bara.

Harga batu bara Newcastle untuk Juli 2025 jatuh US$ 1,3 menjadi US$ 109,95 per ton. Sedangkan harga batu bara Newcastle Agustus 2025 stagnan di US$ 110,85 per ton, dan September 2025 jatuh US$ 2,15 menjadi US$

111,7 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Juli 2025 turun US$ 2,45 menjadi US$ 105,75. Sedangkan, Agustus 2025 terkoreksi US$ 2,95 menjadi US$ 105,05. Sementara pada September 2025 juga melemah US$ 2,7

menjadi US$ 105,55.

Research and Development ICDX Girta Yoga mengatakan, harga batu bara bergerak pada tren bearish. Sentimen yang mempengaruhi datang dari ancaman meluasnya banjir di China yang berpotensi mengurangi

permintaan batu bara di negara konsumen batu bara terbesar dunia itu.

“Ditambah lagi, rencana perubahan kebijakan pertambangan di Indonesia yang dapat mempengaruhi pasokan dari negara eksportir batu bara utama dunia itu,” ungkap Yoga kepada Investor Daily, baru-baru ini.

Yoga mengatakan, harga batu bara bergerak pada rentang resistance di US$ 112 per ton dan support di US$ 110,5 per ton.

Menurut Yoga, selama sepekan harga batu bara bergerak menguat sebesar 1,23%. Dilihat secara ytd, harga batu bara tercatat mengalami penurunan sebesar 10,71%.

Prediksi Harga Batu Bara

Yoga memprediksi, harga batu bara kemungkinan harga batu bara pekan depan masih akan bergerak tertekan.Indikator yang dipantau antara lain kondisi permintaan di negara China dan India, kondisi pasokan

terutama di Indonesia dan Australia.

“Perkembangan kesepakatan dagang AS dan China, perkembangan kebijakan energi bersih, dan situasi di pasar gas alam juga akan mempengaruhi pergerakan harga batu bara pekan depan,” paparnya.

Pada pekan depan, lanjut Yoga, harga batu bara akan bergerak pada rentang resistance di kisaran US$ 111-112,5 per ton. “Apabila mendapat katalis negatif maka berpotensi turun

menemui level support di kisaran harga US$ 110,5-109 per ton,” papar Yoga.

Lebih lanjut Yoga mengatakan, permintaan batu bara dari India berpotensi turun melihat dari tren peningkatan produksi listrik terbarukan sepanjang paruh pertama tahun ini yang melonjak naik sebesar 24,4%,

sementara pembangkit listrik berbasis batu bara turun hampir 3% pada paruh pertama 2025.

Di China, yoga mengatakan, permintaan berpotensi turun dalam waktu dekat akibat gangguan banjir yang sedang melanda saat ini. “Biasanya saat pasokan air berlimpah, penggunaan batu bara sebagai pembangkit

listrik akan dikurangi dan dialihkan menjadi pembangkit listrik tenaga air,” tutup Yoga.