Skenario Terburuk, Harga Minyak Bisa Tembus US$ 140 per Barel
Penulis : Rama Sukarta
JAKARTA, investor.id – Harga minyak global hampir menyentuh US$ 80 per barel pada Senin (23/6/2025) dan diproyeksi bisa menembus US$ 140 per barel pada skenario terburuk. Ini akan bergantung pada respons Iran
terhadap serangan Amerika Serikat (AS) ke depan, serta tindakan dari Rusia, China, dan Korea Utara.
Sebagai gambaran, dalam beberapa waktu belakangan, harga minyak Brent untuk kontrak terdekat naik 2,69% ke US$ 79,08 per barel. Dan WTI naik 1,23% ke US$ 75,85 per barel.
Melesatnya harga minyak dunia dibayangi oleh konflik Israel dan Iran yang mulai melibatkan Amerika Serikat. Kedua belah pihak saling merusak fasilitas produksi migas sehingga mengkhawatirkan pasokan minyak,
bahan bakar minyak (BBM), dan liquified petroleum gas (LPG) di seluruh dunia, termasuk di Indonesia.
Head of Industry & Regional Research Bank Mandiri Dendi Ramdani memproyeksikan harga minyak dunia dapat menembus US$ 100 per barel jika konflik tetap berlanjut. Sebab, konflik yang terjadi di pusat perdagangan
dan lalu lintas kapal minyak Selat Hormuz berpotensi terganggu.
“Konflik pasti akan mengganggu supply dan saya pikir dampaknya sangat mungkin di atas US$ 100 per barel. Skenario terburuk bisa sampai ke US$ 120 sampai US$ 140 per barel. Saya pikir kondisinya memang bisa
sangat ekstrim,” kata Dendi saat dihubungi secara daring, Senin (23/6/2025).
Dia mengatakan, saat ini semua pihak tengah menunggu respons dari Iran, usai tiga fasilitas nuklirnya diserang AS. Tak kalah penting adalah respons lebih jauh dari Rusia, China, dan Korea Utara setelah tindakan
mengejutkan dari AS tersebut.
Lebih lanjut, Dendi menyebutkan baseline harga minyak global berada pada rentang US$ 70 per barel. Prediksinya bahwa harga minyak dapat naik hingga dua kali lipat, disebut akibat tekanan perang tarif dan antisipasi
dampak balas-membalas serangan antara Iran dan Israel yang melebihi ekspektasi.
“Sekarang ini agak beda. Karena apa yang dilakukan Iran, saya pikir di luar ekspektasi atau proyeksi orang, ternyata Iran punya rudal yang sangat canggih, yang Israel bisa ditembus. Sekarang ini lebih
berat. Baseline memang di sekitaran US$ 70-an, tapi ini bisa ke atas US$ 100, kalau kondisinya makin parah,” tandas Dendi.
Sumber : investor.id