Ramalan Terbaru Bank Dunia tentang Ekonomi Indonesia

15 Juli 2025
Image Description

Penulis : Arnoldus Kristianus, Editor: Prisma Ardianto (ardiantoprisma@gmail.com)

JAKARTA, investor.id – Bank Dunia menyatakan tekanan perekonomian global akan berdampak ke semua negara berkembang termasuk Indonesia. Meski saat ini perekonomian Indonesia termasuk resilien tetapi

pemerintah harus mempersiapkan langkah mitigas agar dampak tekanan perekonomian global tidak merambat ke perekonomian domestik.

“Kita tidak dapat mengatakan bahwa Indonesia kebal terhadap tekanan eksternal seperti ketidakpastian global, dan ketidakpastian ini benar-benar diperkirakan akan terus menimbulkan risiko penurunan yang

signifikan,” ucap Country Director Bank Dunia untuk Indonesia dan Timor Leste, Carolyn Turk dalam acara Launching Laporan Indonesia Economic Prospects Edisi Juni 2025 di Jakarta pada Senin (23/6/2025).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) pertumbuhan ekonomi kuartal I-2025 mencapai 4,87%. Jika dibandingkan dengan kuartal IV-2024 perekonomian Indonesia terkontraksi 0,98%.

Perekonomian Indonesia berdasarkan besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp 5.695,9 triliun dan atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.264.5 triliun pada kuartal I-2025.

Tekanan perekonomian global yang terjadi menghambat prospek penciptaan lapangan kerja dan mengurangi upaya untuk mengatasi kemiskinan ekstrem. Pasalnya kinerja perdagangan memburuk dan investasi asing

langsung menjadi lebih lemah. Pada saat yang sama arus modal menjadi tidak stabil sehingga secara umum terjadi lebih banyak tekanan pada keseluruhan posisi ekonomi makro.

“Dalam lingkungan global yang tidak stabil seperti itu, ekonomi Indonesia terus tangguh, dan kami mengamati pertumbuhan PDB sedikit lebih rendah dari 5% meskipun faktanya konsumsi pemerintah sedikit

berkurang dan investasi melambat tahun ini,” kata Carolyn.

Untuk menghadapi ketidakpastian global ini maka Indonesia harus mempercepat agenda reformasi regulasi. Khususnya yang berkaitan dengan deregulasi, perbaikan lingkungan bisnis, menarik investasi swasta, dan

penguatan sumber daya manusia. Semua langkah tersebut harus dilakukan demi meningkatkan kapasitas ekonomi dan menciptakan lapangan kerja yang lebih baik yang berujung pada peningkatan laju perekonomian.

“Salah satu program penting dalam agenda reformasi terkait dengan perumahan dan infrastruktur, dan ada rencana ambisius untuk menyediakan 3 juta unit rumah setiap tahun,” tutur Carolyn.


Sumber : investor.id