Harga Batu Bara Merosot, Tertekan Ramai Sentimen Negatif

15 Mei 2025
Image Description

JAKARTA, investor.id – Harga batu bara merosot pada Kamis (8/5/2025). Hal itu karena tertekan ramai sentimen negatif, mulai dari kenaikan harga batu bara acuan (HBA) Indonesia hingga penurunan ekspor Australia.

Harga batu bara Newcastle untuk Mei 2025 melemah US$ 0,25 menjadi US$ 98,5 per ton. Sedangkan Juni 2025 jatuh US$ 1,25 menjadi US$ 104 per ton. Sementara itu, Juli 2025 turun US$ 1,3 menjadi US$ 106,7 per ton.

Sementara itu, harga batu bara Rotterdam untuk Mei 2025 anjlok US$ 1,85 menjadi US$ 96,75. Sedangkan, Juni 2025 terkoreksi US$ 1,85 menjadi US$ 98,8. Sedangkan pada Juli 2025 jatuh US$ 1,6 menjadi US$ 98,55.

Dikutip dari BigMint, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) resmi menaikkan HBA untuk paruh pertama Mei 2025. Kenaikan ini terjadi pada hampir semua kelas kalori, di tengah ketidakpastian pasar

ekspor global, terutama ke China.

Menurut Mysteel Global, harga acuan untuk batu bara kalori tinggi 6.322 kcal/kg GAR ditetapkan sebesar US$ 121,15 per ton, naik 0,8% dibandingkan harga 15 April yang sebesar US$ 120,2 per ton.

Sementara itu, harga acuan batu bara kalori menengah 5.300 kcal/kg GAR melonjak 3% ke US$ 80,8 per ton, menjadi level tertinggi dalam dua bulan terakhir. “Ini adalah kenaikan terbesar di antara semua harga HBA,

mencerminkan pemulihan dari harga rendah sebelumnya,” tulis Mysteel Global.

Sejak Maret 2025, ESDM menetapkan harga acuan batu bara dua kali sebulan, menggantikan update bulanan sebelumnya, untuk lebih menyesuaikan dengan dinamika pasar. Uniknya, mulai Februari lalu, harga HBA ini

tidak hanya jadi acuan domestik, tetapi juga diberlakukan untuk transaksi ekspor. Namun, kebijakan ini mendapat penolakan dari pelaku pasar internasional.

Daya Saing Melemah

Meski harga naik, Indonesia masih kesulitan menarik pembeli dari China, pasar ekspor terbesar. Mysteel mencatat, harga batu bara Indonesia 3.800 kcal/kg NAR hanya lebih murah RMB 15 per ton dibanding harga batu

bara sejenis dari China per 7 Mei, menyempit dari selisih RMB 29,5 per ton dua minggu sebelumnya. Hal ini membuat daya saing harga Indonesia melemah di pasar China.

Di sisi lain, ekspor batu bara non-coking Australia turun 4,1% menjadi 16,08 juta ton pada April 2025 dibandingkan Maret. Meski begitu, volume ekspor naik 2,9% secara tahunan dibandingkan April 2024.

Penurunan ekspor disebabkan melemahnya permintaan dari pasar Asia utama. Ekspor ke China turun 10,9% menjadi 5,31 juta ton, Vietnam turun 12,3% menjadi 1,31 juta ton, Korea Selatan turun 22,1%, Taiwan turun

12,5%, dan Malaysia turun 11,7%. Hanya Jepang yang turun tipis 0,5% menjadi 4,57 juta ton.


Penulis : Indah Handayani

Sumber : investor.id