Harga CPO Naik, Didorong Kinerja Ekspor Solid

27 Mei 2025
Image Description

JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup naik pada Selasa (20/5/2025). Hal itu karena kinerja ekspor yang solid pada Mei.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Selasa (20/5/2025), kontrak berjangka CPO untuk Juni 2025 naik 29 Ringgit Malaysia menjadi 3.920 Ringgit Malaysia per ton. Untuk kontrak berjangka CPO Juli 2025 terkerek 29

Ringgit Malaysia di 3.922 Ringgit Malaysia per ton. Sementara itu, kontrak berjangka CPO Agustus 2025 menguat 26 Ringgit Malaysia menjadi 3.908 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO September 2025

meningkat 23 Ringgit Malaysia di 3.897 Ringgit Malaysia per ton.

Sedangkan kontrak berjangka CPO Oktober 2025 naik 22 Ringgit Malaysia menjadi 3.894 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO November menguat 20 Ringgit Malaysia menjadi 3.897 Ringgit Malaysia per ton.

Dikutip dari Trading View, berdasarkan data dari lembaga survei kargo, pengiriman sawit tercatat naik antara 6,6% hingga 14,2% pada paruh pertama bulan Mei.

Sentimen pasar juga didorong oleh langkah Malaysia mempererat hubungan dagang dengan China melalui misi resmi yang bertujuan membuka pasar baru dan mendorong inovasi industri hilir.

China merupakan pembeli minyak sawit terbesar ketiga dari Malaysia, menyumbang 10% dari total nilai ekspor pada 2024.

Sementara itu, di India, negara konsumen minyak sawit terbesar di dunia, impor tercatat di bawah rata-rata sejak Desember, namun diperkirakan akan pulih mulai Mei. Namun, potensi kenaikan harga lebih lanjut

dibatasi oleh keputusan Malaysia menurunkan harga acuan CPO untuk Juni, yang menempatkannya dalam kategori bea ekspor 9,5%, sehingga dapat menekan harga.

Di sisi lain, di Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia, asosiasi industri mendesak pemerintah untuk menunda rencana kenaikan pungutan ekspor, dengan alasan kebijakan tersebut dapat mengurangi

daya saing di tengah risiko perdagangan global dan ketegangan geopolitik.


Penulis : Indah Handayani

Sumber : investor.id