Strategi Indonesia Tembus Ekspor Sawit 1 Juta Ton ke Rusia

27 Mei 2025
Image Description

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) Eddy Martono menjelaskan Indonesia mampu mengisi pasar ekspor minyak sawit ke Rusia mencapai 680 ribu ton pada 2024.

“Tahun 2024, ekspor minyak sawit ke Rusia 680.000 ton. Saya kira meningkat kalau dibandingkan dengan 2023 sekitar 13 persen,” kata Eddy saat menjadi narasumber Forum Bisnis Rusia-Indonesia di Jakarta pada pertengahan April 2025.

Forum Bisnis Indonesia-Rusia yang mempertemukan lebih dari 30 perusahaan Rusia, termasuk produsen solusi digital, produk makanan, peralatan khusus, dan berbagai sektor industri lainnya. Forum ini diselenggarakan oleh Yayasan Roscongress, di bawah payung Roscongress International dan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia.

Eddy menargetkan ekspor sawit dari Indonesia ke Rusia bisa menembus nilai 1 juta ton dalam waktu dekat. Saat ini, produk sawit yang diekspor ke Rusia masih berbentuk minyak sawit olahan atau refined palm oil, yakni produk turunan kelapa sawit yang dihasilkan dari proses pemurnian CPO (Crude Palm Oil).

Lebih lanjut, Eddy mengungkap minyak sawit di Rusia memiliki pesaing, yaitu minyak bunga matahari. Meski begitu, Eddy menyebut bahwa minyak sawit masih menjadi primadona di Rusia, khususnya di industri makanan.

“Memang ada produk-produk sawit yang tidak bisa digantikan minyak nabati lain,” ujarnya.

Merujuk data Kementerian Pertanian Rusia, produksi minyak nabati sepanjang 2024 mencapai lebih 10,4 juta ton di mana 6,9% lebih tinggi dari tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut didominasi minyak bunga matahari sekitar 8 juta ton (pertumbuhan dalam kategori ini mencapai 11,7%) dan sekitar 1,1 juta ton minyak kedelai (+9,6%) diproduksi.

Kenaikan produksi oil and fats di Rusia merupakan bagian dari strategi kebijakan swasembada pemerintah. Mikhail Maltsev, Executive Director of the Russian Oil and Fat Union menuturkan industri oil and fats di Rusia tengah meningkatkan kapasitas produksi dengan kecepatan yang luar biasa, yang memungkinkan perluasan area tanaman setiap tahun. “Khususnya, tahun lalu, karena pelaksanaan proyek modernisasi dan konstruksi baru, kapasitas pemrosesan meningkat hampir satu juta ton dan melampaui 32 juta ton per tahun,” ujar Mikhail seperti dikutip dari laman APK Inform.

Kendati menjadi eksportir utama minyak bunga matahari. Negara di bawah kepemimpinan Vladimir Putin ini tetap membeli minyak nabati seperti sawit dari negara lain. Data OEC World menunjukkan Rusia mengimpor Minyak Sawit senilai $855 juta pada 2023. Nilai sebesar ini menjadikannya importir sawit terbesar ke-13 (dari 206) di dunia. 

Selama tahun yang sama, Minyak Sawit merupakan produk ke-46 yang paling banyak diimpor (dari 1.186) di Rusia. Pada tahun 2023, Rusia mengimpor Minyak Sawit terutama dari: Indonesia ($445 juta), Estonia ($375 juta), Turki ($18 juta), Belanda ($7,87 juta), dan Italia ($6,33 juta).

Yang menarik dari pasar Rusia adalah negara ini menjadi pintu masuk sawit ke negara lain. Pada 2023, Rusia juga mengapalkan minyak sawit senilai $14,9 juta, menjadikannya eksportir Minyak Sawit terbesar ke-49 (dari 150) di dunia.Produk Minyak Sawit merupakan produk yang paling banyak diekspor ke-451 (dari 1.200) di Rusia. Pada tahun 2023, tujuan utama ekspor Minyak Sawit Rusia adalah: Kazakhstan ($12,7 juta), Uzbekistan ($1,31 juta), Armenia ($587 ribu), Kirgistan ($255 ribu), dan Moldova ($36,9 ribu).

Kemampuan Rusia sebagi hub produk sawit diamini oleh Eddy Martono. Pria asal Yogyakarta ini berharap pertemuan dengan para pemangku kepentingan Rusia dapat mempererat kerjasama Indonesia dan Rusia dalam perdagangan minyak kelapa sawit.