Harga Minyak Turun, Pasar Harap-harap Cemas

20 Juni 2025
Image Description

Penulis : Indah Handayani

NEW YORK, investor.id – Harga minyak mentah dunia turun pada perdagangan Selasa (10/6/2025). Di tengah pelaku pasar harap-harap cemas hasil negosiasi dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China. Kesepakatan antara dua ekonomi terbesar dunia tersebut dinilai dapat menopang pertumbuhan ekonomi global dan mendorong permintaan minyak.

Dikutip dari Reuters, harga minyak Brent turun 17 sen (0,3%) ke US$ 66,87 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) melemah 31 sen (0,5%) dan ditutup di US$ 64,98 per barel.

Pada sehari sebelumnya, harga Brent sempat menyentuh level tertinggi sejak 22 April dan WTI tertinggi sejak 3 April.

Negosiasi dagang antara pejabat AS dan China terus berlangsung untuk hari kedua di London, menyusul upaya kedua negara mencapai terobosan terkait pengendalian ekspor. Isu ini dinilai mengancam gencatan dagang yang selama ini cukup rapuh.

Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick mengatakan pembicaraan berlangsung positif dan diharapkan rampung Selasa malam, meskipun tidak menutup kemungkinan berlanjut hingga Rabu.

Sementara itu, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2025 sebesar 0,4 poin persentase menjadi 2,3%. Penurunan ini disebabkan oleh risiko dari tarif yang lebih tinggi dan ketidakpastian global yang terus meningkat.

Dari sisi pasokan, Saudi Aramco, perusahaan minyak nasional Arab Saudi, dilaporkan akan mengirim sekitar 47 juta barel minyak ke China pada Juli, turun 1 juta barel dibanding alokasi bulan Juni. Hal ini mengindikasikan bahwa pencabutan pemangkasan produksi oleh OPEC+ mungkin tidak langsung menambah pasokan secara signifikan.

OPEC+ yang terdiri dari negara anggota OPEC dan sekutunya seperti Rusia, sebelumnya telah menyepakati kenaikan produksi sebesar 411 ribu barel per hari pada Juli 2025. Ini menjadi bulan keempat berturut-turut peningkatan output pascapemangkasan besar-besaran.

Namun, survei Reuters menunjukkan peningkatan produksi OPEC pada Mei masih terbatas. Irak sebagai produsen terbesar kedua setelah Saudi tercatat memproduksi di bawah target untuk mengompensasi kelebihan produksi sebelumnya. Sementara itu, Saudi dan Uni Emirat Arab hanya menaikkan produksi dalam jumlah kecil dibanding kesepakatan awal.

Ketegangan Geopolitik

Di sisi lain, ketegangan geopolitik terus membayangi pasar. Iran menyatakan akan segera mengajukan proposal tandingan untuk kesepakatan nuklir, setelah menyebut tawaran dari AS sebagai ‘tidak dapat diterima’. Presiden AS Donald Trump pun menegaskan bahwa perbedaan pandangan terkait hak Iran untuk memperkaya uranium di dalam negeri masih menjadi batu sandungan utama.

Iran merupakan produsen minyak terbesar ketiga di OPEC. Jika sanksi AS terhadap Teheran dilonggarkan, pasokan minyak dari Iran ke pasar global bisa meningkat dan memberi tekanan pada harga minyak.

Sementara itu, Uni Eropa mengusulkan paket sanksi ke-18 terhadap Rusia sebagai respons atas invasi ke Ukraina. Sanksi ini menargetkan pendapatan energi, sektor perbankan, dan industri militer Rusia.

Rusia merupakan produsen minyak mentah terbesar kedua dunia setelah AS pada 2024. Sanksi tambahan terhadap Moskow berpotensi mempersempit pasokan global, yang bisa menjadi penopang harga minyak.

Dari sisi data, pasar menunggu laporan persediaan minyak mentah AS dari American Petroleum Institute (API) dan Badan Informasi Energi AS (EIA) yang dirilis masing-masing Selasa malam dan Rabu.

Analis memperkirakan terjadi penarikan sekitar 2 juta barel dari cadangan minyak AS selama pekan yang berakhir 6 Juni, menjadi penarikan ketiga berturut-turut sejak Januari. Sebagai perbandingan, pada periode yang sama tahun lalu terjadi peningkatan 3,7 juta barel, dan rata-rata peningkatan lima tahun terakhir (2020–2024) sebesar 2,8 juta barel.

Sumber : investor.id